Berita analisis

Bima Arya: Setahun larangan kantong plastik di Bogor, hasilnya di luar dugaan

Salah satunya kebijakan ini banyak menginspirasi wilayah lain untuk melakukan gerakan serupa

Surya Fachrızal Aprıanus,Muhammad Nazarudın Latıef   | 17.01.2020
Bima Arya: Setahun larangan kantong plastik di Bogor, hasilnya di luar dugaan Wali Kota Bogor Bima Arya dalam wawancara khusus dengan Anadolu Agency di Balai Kota Bogor pada 14 Januari 2020. (Surya Fachrizal Aprianus - Anadolu Agency)

Jakarta Raya

BOGOR

Inisiatif Bima Arya, wali kota Bogor, yang melarang penggunaan kantong plastik di seluruh pusat perbelanjaan di kota itu sudah genap berjalan satu tahun.

Target dia adalah mengurangi sampah plastik di Kota Bogor yang mencapai 1,7 juta ton per hari menjadi setengahnya. Bima mengakui kebijakan yang dia keluarkan belum signifikan mengurangi limbah plastik.

Tapi, bagi Bima, setidaknya dia sudah memulai suatu gerakan. Gerakan untuk menumbuhkan kesadaran masyarakat akan bahaya limbah plastik bagi ekosistem lingkungan. Gerakan yang menginspirasi daerah lain untuk melakukan kebijakan serupa.

Dia mengharapkan gerakan ini bukan hanya kampanye soal pengurangan limbah plastik, tapi lebih jauh pada gerakan budaya untuk tidak membuang sampah sembarangan – seperti kebiasaan orang Indonesia pada umumnya.

Pertanyaannya kemudian, setelah setahun Peraturan Nomor 61 tahun 2018 ini berjalan, apa hasil kongkret – setidaknya bagi masyarakat Bogor?

Anadolu Agency melakukan wawancara khusus dengan Wali Kota Bogor Bima Arya terkait kebijakan tersebut. Berikut petikannya:

Anadolu Agency (AA): Setahun larangan kantong plastik di kota Bogor, apa dampaknya?

Bima Arya (BA): Agak mengejutkan, dampaknya jauh dari yang kita perhitungkan. Salah satunya kebijakan ini banyak menginspirasi wilayah lain.

Saya banyak diundang kota-kota lain untuk berbagi pengalaman bagaimana menggolkan aturan yang sebenarnya penuh tantangan ini.

Kedua, warga menjadi lebih peduli terhadap masalah sampah plastik. Mereka berkreasi untuk menggunakan bahan-bahan ramah lingkungan untuk menunjang kegiatan mereka.

Dampak sosial ini yang lebih besar artinya bagi kami. Bukan sekedar mengurangi sampah plastik.

AA: Tahun 2018, Anda menyebut ada 1.7 ton sampah plastik setiap hari di Kota Bogor, saat ini berapa?

BA: Dari sekitar 24 ritel di kota Bogor, dihitung dari kontribusi mereka terhadap sampah plastik di Kota Bogor, sudah berkurang hampir setengah ton per hari.

Ini sangat signifikan jika dibanding jumlah sampah secara keseluruhan yang mencapai 450 hingga 500 ton per hari.

Berkurang setengah ton dari 24 ritel di kota Bogor, saya kira ini sangat signifikan.

AA: Setelah berlaku untuk ritel, apa langkah selanjutnya?

BA: Sejak pertama kali diberlakukan Perwali No 61/2018 ini, dalam waktu 1 hingga 2 tahun akan diperluas untuk masuk ke pasar-pasar tradisional.

Kita berharap akhir tahun ini aturan itu bisa diterapkan di pasar tradisional.

AA: Siapa yang paling keberatan dengan aturan ini?

BA: Awal-awal memang ada keberatan dari pengusaha ritel yang khawatir pelanggannya berkurang dan kesulitan menyediakan pengganti kantong plastik. Tapi itu cuma satu dua bulan saja.

Setelah itu konsumen membawa sendiri kantong belanja atau membeli kantong belanja ramah lingkungan yang disediakan di minimarket dan supermarket.

AA: Apakah produsen plastik keberatan?

BA: Saya belum pernah mendapat keluhan dari produsen plastik di kota Bogor. Sejauh ini keberatan datang dari pengusaha ritel.

AA: Kabarnya Kota Bogor bekerja sama dengan lembaga Plastic Energy untuk mengolah sampah plastik menjadi energi bahan bakar?

BA: Plastic Energy membutuhkan minimal 100 ton sampah plastik setiap hari untuk diolah menjadi energi. Kota Bogor sudah berkurang sampah plastiknya, tidak bisa sebanyak itu.

Untuk itu harus bekerja sama dengan Kabupaten Bogor untuk memastikan supply sampah plastik yang cukup

AA: Apa tips dari Anda untuk daerah-daerah lain yang ingin menerapkan larangan kantang plastik sekali pakai?

BA: Saya ikut menyemangati daerah-daerah lain yang ingin melakukan hal yang sama. Kuncinya dalah persiapan dan perencanaan yang matang.

Sosialisasi yang masif, prakondisi harus panjang. Kota Bogor saja butuh waktu satu tahun.

Kita harus menyampaikan kepada warga, dan memberi kesempatan kepada pihak usaha untuk menyiapkan kantong pengganti yang ramah lingkungan.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın