Turki, Berita analisis

ANALISIS – Upaya Turki lawan narko-terorisme dari kelompok teror PYD/PKK

Pendapatan terbesar organisasi teroris tersebut berasal dari penjualan narkoba

Muhammad Abdullah Azzam   | 20.07.2019
ANALISIS – Upaya Turki lawan narko-terorisme dari kelompok teror PYD/PKK Ilustrasi: Tentara PKK/PYD. (Foto file - Anadolu Agency)

Istanbul

Ümit Tetik

ISTANBUL 

Organisasi teroris PYD/PKK menjadikan wilayah Balkan, Afrika Utara dan Selatan, dan Kaukasus sebagai destinasi utama penjualan dan pengangkutan narkoba.

Bersamaan dengan Operasi Cakar (Pence) di utara Irak, pasukan Turki memperoleh temuan-temuan dari tempat perlindungan dan depot amunisi PKK yang membuktikan organisasi teroris itu melakukan perdagangan obat-obatan terlarang.

Pendapatan terbesar organisasi tersebut berasal dari penjualan barang-barang terlarang ini.

Selama lebih dari 40 tahun, PKK melakukan aktivitas terornya di Turki, Irak, Suriah, Iran dan negara-negara Eropa dengan nama-nama yang berbeda.

Seperti organisasi teroris lainnya, PKK membutuhkan sumber finansial untuk melahirkan massa guna mempertahankan serangan teroris dan membangun negara baru.

Produksi, distribusi dan penjualan obat-obatan terlarang yang akan memenuhi anggaran tahunan organisasi tersebut berhasil dibongkar dan dibeberkan oleh pasukan keamanan Turki yang menggelar operasi anti-teror dan narkotika.

Operasi yang digelar intensif oleh pasukan keamanan Turki mengurangi pendapatan organisasi tersebut secara serius.

PYD/PKK memiliki empat rute penting dalam perdagangan narkoba mereka yakni Balkan, Afrika Utara dan Selatan, dan Kaukasus.

Selain itu, organisasi ini memperoleh atau mengangkut benda terlarang itu dari berbagai lokasi di Afrika.

Secara diam-diam, PKK sering menggunakan rute-rute ini untuk mengangkut narkotika ke Eropa, yang menjadi pasar utama.

Organisasi tersebut menggunakan negara-negara Balkan sebagai rute untuk mengangkut narkotika ke Eropa secara diam-diam.

Rute geografis tersebut adalah Afghanistan-Iran-Turki-Balkan-Eropa.

Narkotika yang diproduksi di Afghanistan diangkut ke Iran, Irak atau Suriah, setelah itu dimasukkan ke Turki melalui Iran dan Kaukasus, sebelum diangkut ke negara Eropa barat seperti Belanda, Belgia dan Prancis melalui berbagai rute di negara-negara Balkan.

Menurut laporan intelijen yang diakses dari EUROPOL, PKK bekerja sama dengan kontraktor yang berbeda-beda pada tiap rute tersebut untuk mengelabuhi petugas keamanan.

Sebagai contoh, PKK melakukan kesepakatan dengan beberapa organisasi kriminal Georgia dan Iran saat menggunakan rute Kaukasus untuk mentransfer narkoba ke pasar di Eropa Timur.

Salah satu perantara terkenal yang diekspos oleh media dalam hal ini adalah Baybasin bersaudara dari Diyarbakir.

Keluarga tersebut menggunakan ikatan suku untuk mengedarkan narkoba dengan membentuk segitiga jaringan di Inggris, Belanda dan Turki.

Keluarga tersebut membangun jaringan penjualan narkoba dengan hampir semua pengedar narkoba di Eropa.

Menurut penuturan pengedar narkoba yang ditangkap oleh pasukan keamanan Turki, tidak ada jaringan narkoba yang tak menjalin hubungan dengan PKK, baik di Turki maupun Eropa.

Setelah Arab Spring pada 2011, PKK memperluas pengaruh di Suriah melalui perpanjangan tangan PYD/YPG untuk mempercepat langkah-langkah mereka ke Eropa.

PKK menguasai wilayah di Suriah melalui PYD/YPG setelah ISIS menyerang wilayah Ayn al-Arab di Suriah dan Amerika Serikat (AS) memberikan dukungan kepada PYD/YPG untuk melawan Daesh sejak tahun 2014.

PYD/PKK mulai mengirim narkotika ke Eropa melalui Suriah setelah mendominasi wilayah tersebut, melalui daerah Kandil, salah satu pusat distribusi narkoba di utara Irak.

Organisasi tersebut tak hanya menjadikan daerah Qamishli, Malikiya, Ras al-Alayn, Raqqa, Hasaka, Ayn al-Arab dan Tel Abyad di Suriah sebagai tempat pengangkutan narkoba, namun mereka juga membudidayakan opium dan ganja di wilayah tersebut.

Secara implisit, PYD/PKK terus memproduksi obat-obatan dengan bahan baku yang ditanam di ladang jagung dan kapas.

Organisasi ini melakukan semua kegiatan tersebut di bawah pengawasan Kementerian Pertanian dari pemerintahan yang mereka bentuk atas nama Pemerintah Otonomi Suriah Utara dan Timur.

Narkoba itu tidak hanya dikirim ke Eropa, tetapi juga didistribusikan oleh anggota PYD/PKK di dalam Suriah agar negara tersebut mudah dikendalikan oleh mereka.

Jaringan narkotika yang didirikan oleh PYD/PKK di Turki dan sekitarnya mengalami hambatan yang besar akibat operasi anti-teror yang digelar secara meluas oleh Turki.

Operasi untuk mencegah peredaran narkoba mulai menguat setelah lembaga-lembaga internasional dan keamanan menjalin komunikasi yang baik di dalam dan luar negeri sejak 2016 silam.

Pada paruh kedua 2016, pasca-pemecatan para pejabat dari lembaga-lembaga negara penting usai upaya kudeta FETO yang gagal, Turki lebih intens melakukan operasi melawan terorisme dan narkoba.

Selanjutnya, Angkatan Bersenjata Turki (TSK) menggelar dua operasi militer melawan organisasi dan kelompok-kelompok teror di utara Suriah.

Operasi yang dilakukan Turki di wilayah utara Irak dapat menghadang aktivitas penyeberangan perbatasan ilegal serta melumpuhkan para petinggi organisasi teroris pemberi keputusan semua kegiatan teror dan perdagangan narkoba.

Kesimpulannya, upaya Turki melawan narkotika dan terorisme meraih momentum penting sejak 2016.

Pihak keamanan Turki menyita 88.238 kilogram ganja, 16.454 kilogram heroin dan 11.411 kilogram kokain dalam operasi yang dilakukan oleh unit yang tergabung pada Kementerian Dalam Negeri selama tahun 2016-2018.

Untuk memahami seberapa besarnya jumlah produksi narkoba oleh PYD/PKK, cukup melihat seberapa besarnya permintaan dari pasar Eropa.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). . Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın