Berita analisis

ANALISIS - Pengungsi Ukraina dan humanisasi jurnalistik dari penderitaan kulit putih

Kekuatan kulit "putih" yang paling mengerikan dipajang di media. Penjaga gerbangnya, di negara-negara barat, sangat berperspektif "putih", dan tentu saja, lensa jurnalistik mereka melihat dunia melalui kontur eksklusifnya

Ekip   | 27.03.2022
ANALISIS - Pengungsi Ukraina dan humanisasi jurnalistik dari penderitaan kulit putih Pengungsi Ukraina (Foto file - Anadolu Agency)

OLEH: Prof. Khaled A. Beydoun

Penulis adalah profesor di Wayne State School of Law, dan Scholar-in-Residence di Initiative for a Representative First Amendment di Harvard University. Dia adalah penduduk asli Detroit, dan penulis dari American Islamophobia: Understanding the Roots and Rise of Fear 

ISTANBUL

Terjerat di antara kepentingan kekaisaran, Ukraina menempati geografi yang tidak menyenangkan. Negara itu berlokasi di antara kekaisaran Rusia yang telah direvitalisasi dan daya tarik Eropa yang menggoda, yang kemudian juga ditarik ke barat oleh ketertarikan terhadap demokrasi sehingga mendorong invasi Rusia pada akhir Februari ke dalam situasi perang.

Banyak warga Ukraina tetap tinggal,  bangkit melawan Rusia, dan berjuang seperti ditunjukkan oleh media. Perlawanan yang berani diwujudkan oleh presiden karismatik negara itu, Volodymyr Zelenskyy, yang menukar setelan jasnya dengan seragam hijau tentara. Visual jutaan pengungsi Ukraina mengalir keluar dari Kyiv dan Lviv, dan kota-kota dan desa-desa di luar dan di antara keduanya, diselingi dengan adegan perang, yang bisa disaksikan secara real-time, di televisi dan gawai.

Setelah invasi Rusia itu, saya menulis untuk Washington Post [1] menceritakan pengamatan saya: "Seketika, dan memang seharusnya, dunia memuji orang-orang Ukraina yang mengacungkan bom molotov dan membentuk legiun tentara-warga sebagai "pejuang kemerdekaan." wanita mengacungkan senapan, mantan juara kelas berat mengorbankan [2] kemewahan demi cinta tanah air, dan seorang presiden yang menolak [3] tawaran evakuasi dan menyatakan "ini adalah terakhir kali Anda mungkin melihat saya hidup," memperkuat narasi global tentang kebaikan versus kejahatan; sama dengan Daud melawan Goliat." 

Ukraina adalah pengungsi 'nyata', mengapa bukan Muslim atau Afrika?

Narasi besar dari underdog Ukraina yang terkepung itu tak terhapuskan dan tak terbantahkan. Ini membentuk paduan suara dukungan media barat untuk perlawanan Ukraina dan jutaan pengungsi membanjiri negara-negara tetangga dan Eropa dan membubarkan perpecahan tradisional pada imigrasi di seluruh benua dan di Amerika Serikat.

Imigrasi tidak lagi menjadi isu yang mengganjal. Setidaknya, tidak untuk Ukraina.

Namun, isu imigrasi tetap memecah belah ketika para pengungsi adalah orang Arab atau Muslim, imigran Hitam atau Coklat yang tergusur dari tanah air mereka oleh perang barat atau keputusasaan ekonomi.

Standar ganda yang menakjubkan diperlihatkan sepenuhnya segera setelah invasi Rusia, termasuk tahap-tahap masa perang yang mengikutinya.

Outlet media di seluruh Amerika Serikat dan Eropa dan spektrum politik masing-masing memanusiakan penderitaan pengungsi Ukraina. Sketsa yang cermat [4] tentang orang-orang nyata yang mengemasi tas mereka dan melarikan diri dari tanah air mereka secara kuat menghubungkan krisis pengungsi dengan pemirsa di seluruh dunia. Pengungsi Ukraina memiliki nama dan cerita asli, dengan anak-anak nyata dan kehidupan nyata ditinggalkan untuk masa depan yang tidak pasti di negeri asing yang jauh dari rumah.

Kisah-kisah pengungsi non-kulit putih sering tak terungkap

Banyak kisah-kisah yang tak terhitung dan tidak dipublikasikan tentang populasi pengungsi non-kulit putih.

Jutaan pengungsi Suriah tetap tidak berwajah dan terwakili secara datar, jika sama sekali diliput oleh media, meskipun jumlah mereka lebih besar dan perjuangan mereka mengerikan di seluruh negara dan benua.

Ketimbang memanusiakan penderitaan untuk mendorong dukungan bantuan, sebagian besar liputan media barat yang ditujukan untuk pengungsi Suriah berpusat pada xenofobia atau perlawanan Islamofobia dari politisi populis dan pakar.

Penjajaran rasial tidak bisa lebih jelas dan sering dilatarbelakangi oleh outlet media yang membuat daya tarik manusia untuk pengungsi Ukraina. Sementara pengungsi Suriah dan Afghanistan lama antara keadaan tanpa kewarganegaraan dan keheningan media, media seperti France 24 cenderung hanya menyebutkan mereka dalam kaitannya dengan populisme sayap kanan yang melanda negara itu.

Di tengah krisis pengungsi Ukraina, media Prancis akhirnya memuat berita yang melibatkan "pengungsi Arab". Namun tidak disebutkan yang mana. Juga tidak memperluas perhatian jurnalistik atau cerita kemanusiaan seperti yang diberikan kepada pengungsi Ukraina. Sebaliknya, itu merujuk mereka sebagai monolit yang tidak dapat dibedakan, ditambatkan ke suara penuh kebencian dari kandidat presiden sayap kanan Eric Zemmour, yang mengatakan, "Jika mereka [pengungsi Ukraina] memiliki ikatan dengan Prancis, jika mereka memiliki keluarga di Prancis... beri mereka visa."

Zemmour kemudian membandingkan mereka dengan  "imigran Arab atau Muslim."  Dia menyatakan, "Ada orang-orang yang seperti kita dan orang-orang yang tidak seperti kita. Semua orang sekarang mengerti bahwa imigran Arab atau Muslim terlalu berbeda dengan kita dan semakin sulit untuk mengintegrasikan mereka."

Untuk media, penyebutan “imigran Muslim” diturunkan ke tema alien yang tidak dapat diasimilasi – bukan manusia nyata yang membutuhkan tempat berlindung yang aman.

Beberapa 'subjek yang layak' untuk media barat, yang lain tidak

Di satu sisi, dorongan untuk menutupi dan menyerukan soal adanya standar ganda rasial patut dipuji. Tapi, selalu berhenti di situ untuk pengungsi Arab dan Afrika, Hitam dan Muslim. Selalu ada cerita yang membandingkan aliran cinta untuk pengungsi Ukraina dengan xenofobia terhadap imigran non-kulit putih, yang diliput oleh media Eropa dan Amerika. Namun, liputan ini tidak diikuti oleh apa yang dibutuhkan pengungsi Afghanistan, Suriah, dan Rohingya -- kisah-kisah yang memanusiakan dan cerita berlapis sebagaimana yang dilakukan media untuk pengungsi Ukraina.

Pengungsi non-kulit putih tidak hanya nyata sebagai bukti rasisme dalam isu pemukiman kembali dan imigrasi pengungsi. Mereka juga bukan blok homogen yang hanya jadi referensi untuk memuaskan kepekaan liberal jurnalis, atau seluruh outlet media, yang ingin mewakili diri mereka sendiri sebagai pihak yang tidak rasis. Meskipun dalam peliputan justru menunjukkan sebaliknya.

Kekuatan kulit "putih" yang paling mengerikan dipajang di media. Penjaga gerbangnya, di negara-negara barat, sangat berperspektif "putih", dan tentu saja, lensa jurnalistik mereka melihat dunia melalui kontur eksklusifnya.

Rasisme yang keluar dari mulut kaum populis dan pakar tentang Ukraina ditemukan serentak di antara suara-suara media liberal dan sentris.

Charlie D'Agata, dari CBS News, menangis [7] saat melakukan on air, "[Ukraina] bukanlah tempat, dengan segala hormat, seperti Irak atau Afghanistan, yang telah menyaksikan konflik berkecamuk selama beberapa dekade. Ini adalah tempat yang relatif beradab, relatif Eropa - saya harus memilih kata-kata ini dengan hati-hati - kota, kota di mana Anda tidak akan mengharapkannya, atau berharap itu akan terjadi."

Pesannya jelas. "Eropa" berarti "putih", yang bersama-sama mewakili segala sesuatu yang sepenuhnya, suci, dan "relatif" beradab.

Tidak seperti Irak atau Afghanistan, kedua negara dihancurkan oleh perang dan teror Amerika selama dua dekade, yang berdiri sebagai benteng ketidaksopanan, ekstremisme, dan perang selamanya. Imigran yang melarikan diri dari negara-negara ini, dan sejumlah masyarakat non-kulit putih yang dihancurkan oleh perang membawa ancaman teror bersama mereka.

Dinodai stigma ini dan kekurangan kulit putih seperti yang dibawa oleh para pengungsi Ukraina, mereka dianggap sebagai orang yang tidak diinginkan oleh negara-negara yang membuka perbatasan dan senjata mereka untuk para korban pengepungan Rusia yang bermata biru dan berambut pirang.

Etika media harus direvisi

Wartawan kuning selalu merasuki media. Tetapi yang lebih berpengaruh adalah jejak keputihan, yang mencondongkan etika jurnalistik dengan mengangkat cerita orang-orang yang terlihat seperti orang yang memegang kekuasaan, percaya seperti mereka, dan berbagi tradisi yang sama.

Asosiasi Jurnalis Arab dan Timur Tengah dengan cepat mengutuk rasisme dalam liputan media di Ukraina dan pengabaian populasi pengungsi non-kulit putih pada hari-hari setelah invasi Rusia.

Ada pernyataan formal bahwa "Ruang redaksi tidak boleh membuat perbandingan yang menimbang signifikansi atau menyiratkan pembenaran satu konflik atas yang lain - korban sipil dan perpindahan di negara lain sama-sama menjijikkan seperti di Ukraina."

Etika media dibangun di atas landasan peliputan yang adil, seimbang, dan objektif. Sebuah misi yang dirusak oleh tangan kulit "putih" yang berat, di dalam ruang redaksi dan lebih mengganggu di layar yang seharusnya menghembuskan nafas pada kemanusiaan, dan memberikan bantuan untuk perjuangan.


*Pendapat yang diungkapkan dalam artikel ini adalah milik penulis dan tidak mencerminkan kebijakan editorial Anadolu Agency.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın