Berita analisis

Akankah Uni Emirat Arab lanjutkan kebijakan yang gagal di Libya dan Yaman?

Para pakar mengatakan UEA dapat menarik diri atau setidaknya mengurangi dukungannya untuk Haftar dan Dewan Transisi Selatan di Yaman karena situasi ekonomi

Muhammad Abdullah Azzam   | 25.06.2020
Akankah Uni Emirat Arab lanjutkan kebijakan yang gagal di Libya dan Yaman? Ilustrasi: Puing kehancuran di Yaman. (Foto file - Anadolu Agency)

Istanbul

İhsan Fakih, Ehssan Alsharıf, Hacer Başer

ISTANBUL

Uni Emirat Arab (UEA), yang menganggap gerakan-gerakan Islam yang aktif dalam kancah politik sebagai ancaman serius, mungkin harus mengurangi dukungan terhadap para sekutunya di kawasan karena situasi ekonomi.

UEA, negara teluk yang memiliki sikap ingin memecah belah gerakan Islam di kawasan Arab dan melenyapkannya dari wilayah tersebut, tidak mengizinkan pembentukan asosiasi atau kegiatan Islam yang terkait dengan gerakan Islam.

Beberapa negara Teluk, terutama UEA dan Arab Saudi, memandang ideologi gerakan Islam, yang memiliki aspek politik seperti Organisasi Ikhwanul Muslimin, sebagai ancaman terhadap rezim mereka.

Ketakutan negara-negara Teluk muncul setelah terjadi revolusi di kawasan Arab yang populer disebut "Arab Spring".

UEA jadi pelopor negara-negara dan pasukan yang menolak revolusi Arab. Karena ketakutan tersebut, negara ini juga menjalankan revolusi yang berlawanan [dengan tren Arab Spring] di wilayah Arab.

Salah satu metode yang digunakan oleh pemerintah Abu Dhabi dalam memperlemah revolusi Arab adalah mencemarkan citra Islam dan merusak citra gerakan Islam melalui anggaran yang dialokasikan dan media yang telah ditugaskan.

Salah satu di antara gerakan Islam ini adalah Ikhwanul Muslimin yang dikenal dengan latar belakang sejarah dan gayanya yang diterima oleh masyarakat Arab.

Tak cukup hanya memerangi Ikhwanul Muslimin, UEA juga menyerang Gerakan al-Nahda di Tunisia dan Hamas di Palestina.

UEA menyamakan organisasi-organisasi yang mengutamakan perdamaian dan bergerak dalam politik dan sosial itu dengan organisasi teroris seperti Daesh, Al-Qaeda dan al-Shabaab yang memiliki ideologi radikal dan mengadopsi aksi "kekerasan".

Beberapa pengamat menganggap pemerintah Abu Dhabi mengadopsi sikap "permusuhan terhadap Islam" dengan mendiskreditkan siapa pun yang memperjuangkan wacana Islam, tidak hanya gerakan-gerakan Islam saja.

UEA juga berusaha menempatkan pemahaman baru tentang Islam dalam pemahaman agama tradisional yang diadopsi oleh gerakan-gerakan Islam.

Mereka menyelenggarakan sebuah konferensi bekerja sama dengan Lembaga al-Azhar dan Rusia di Grozny, ibu kota Republik Chechnya pada 2016.

Konferensi tersebut membahas masalah Salafisme yang dinilai jauh dari toleransi beragama dan pembahasannya berlanjut sampai "pemahaman takfiri". Konferensi itu menuai reaksi kecaman oleh ulama Arab Saudi yang mewakili Salafisme.

UEA memperkeruh krisis kemanusiaan

Pemerintahan Abu Dhabi menunjukkan sikap anti-revolusionernya [anti Arab Spring] dalam pemilu yang diadakan di Mesir pada 2012, di mana negara itu selanjutnya mendukung kudeta militer pada 3 Juli 2013, kurang dari setahun setelah pemilu yang bernuansa demokratis.

Intervensi UEA di Suriah, Yaman dan Libya, dan fakta bahwa mereka menjalankan wacana revolusi yang berlawanan [dari Arab Spring] di sana menyebabkan perang saudara dan konflik bersenjata di negara-negara ini semakin parah.

Peperangan di negara-negara ini juga menyebabkan timbulnya krisis kemanusiaan dan terhambatnya rekonsiliasi politik.

Pemerintahan Abu Dhabi ikut campur dalam perang saudara di Yaman dan Libya pada 2014. Negara itu mendukung separatis Dewan Transisi Selatan (STC) melawan Partai al-Islah yang dikenal karena kedekatannya dengan Ikhwanul Muslim Yaman.

Begitu juga di Libya, UEA mendukung pasukan ilegal jenderal Khalifa Haftar melawan pemerintah Libya yang dipimpin oleh Fayez al-Sarraj.

Pasukan STC, yang didukung oleh UEA di Yaman, dituduh melakukan pembunuhan terhadap pengurus tinggi Partai Islah. Negara teluk itu juga berusaha memisahkan selatan Yaman dari wilayah utara melawan kekuatan politik yang sah yang sedang berjuang untuk mengalahkan kaum Houthi serta memastikan persatuan negara.

Namun, upaya UEA untuk melenyapkan Partai Islah berakhir dengan kegagalan. Partai itu melanjutkan dukungannya terhadap pemerintah yang sah dan didukung oleh Arab Saudi. Partai tersebut juga menempatkan para pendukungnya di jajaran pasukan pemerintah yang melawan kaum Houthi.

Sementara Haftar, yang didukung oleh UEA karena dipandang sebagai sekutu untuk memerangi gerakan Islam di Libya, pada 4 April 2019 mengumumkan mereka melancarkan serangan terhadap ibu kota Tripoli dengan dalih untuk "membersihkan kelompok-kelompok teroris yang didukung oleh pemerintahan al-Sarraj".


Kesulitan ekonomi UEA akan mempengaruhi sekutunya di Libya dan Yaman

Di sisi lain, para pakar mengungkapkan masalah ekonomi di UEA akan mempengaruhi dukungannya terhadap Khalifah Khaftar di Libya dan pasukan STC di Yaman.

Para pengamat juga mengatakan sekutu Abu Dhabi di kedua negara tersebut gagal menerapkan kebijakan UEA yang mengakibatkan kerugian bagi negara teluk itu.

Menteri Negara untuk Urusan Luar Negeri UEA, Anwar Gargash memberikan pernyataan kepada harian Bloomberg yang berbasis di AS pada 18 Juni.

"Beberapa teman kami membuat keputusan sepihak dan individual. Kami baru-baru ini menyadari bahwa STC di Yaman dan Haftar mengambil sikap seperti itu di Libya. Terungkap bahwa sebagian besar perhitungan ini salah," sebut Gargash.

Para pengamat mengatakan UEA dapat menarik atau setidaknya mengurangi dukungannya untuk Haftar dan STC karena situasi ekonomi seperti itu.

Di sisi lain, beberapa pengamat memperkirakan UEA akan melanjutkan upayanya melawan gerakan Islam yang aktif dalam politik dengan mendukung pihak-pihak yang berlawanan dengan asosiasi, lembaga dan organisasi yang dekat dengan gerakan Islam di Libya, Yaman atau negara lain.

Para pakar menilai UEA akan terus menyelenggarakan konferensi dan menciptakan lembaga "keagamaan" alternatif untuk melawan gagasan dan kebijakan gerakan Islam ini.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın