Berita analisis, Regional

Akademisi nilai kepemimpinan Indonesia diuji usai pertemuan pimpinan ASEAN

Apabila gagal dalam menyelesaikan krisis di Myanmar, Indonesia dinilai akan kehilangan suara dan pengaruh di dunia internasional

Devina Halim   | 23.04.2021
Akademisi nilai kepemimpinan Indonesia diuji usai pertemuan pimpinan ASEAN Presiden Indonesia Joko Widodo (tengah) menandatangani plakat saat meresmikan Gedung ASEAN yang baru sebagaimana disaksikan oleh Sekretaris Jenderal ASEAN Dato Lim Jock Hoi (kanan) dan Menteri Luar Negeri Indonesia Retno Marsudi (kiri) di ASEAN Gedung sekretariat di Jakarta, Indonesia pada 8 Agustus 2019. Acara ini diadakan sebagai peresmian Gedung Sekretariat ASEAN yang baru dan Perayaan HUT ke-52 ASEAN dengan tema “ASEAN: Babak Baru, Berjuang Bersama.” ( Anton Raharjo - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA 

Akademisi menilai kepemimpinan Indonesia selaku tuan rumah Pertemuan Para Pemimpin ASEAN pada Sabtu besok, diuji dalam penyelesaian krisis di Myanmar pasca-kudeta militer.

Kepala Program Studi Hubungan Internasional Universitas Indonesia Shofwan Al-Banna menilai, Indonesia sebagai aktor utama di ASEAN mencoba menunjukkan kepemimpinannya dalam penyelesaian krisis ini.

“Jadi apakah Indonesia bisa punya leadership yang nyata di kawasan dan ujian untuk ASEAN, apakah ASEAN ini masih organisasi yang penting di kawasan,” kata Shofwan kepada Anadolu Agency, Jumat.

Namun, Shofwan menilai, ASEAN dan Indonesia dilema dalam menentukan ruang komunikasi dengan junta militer Myanmar agar tidak menjadi sebuah pengakuan.

Menurut dia, ASEAN belum memiliki satu sikap yang jelas sehingga dimanfaatkan oleh junta untuk melegitimasi kekuasaannya dengan hadir dalam Pertemuan Para Pemimpin ASEAN.

Karena sudah terjadi, Shofwan mengatakan, negara-negara ASEAN harus menegaskan bahwa kehadiran junta dalam pertemuan tersebut bukan sebagai bentuk pengakuan.

“Jangan sampai jadi kemenangan simbolik dari junta militer,” ucap Shofwan.

Shofwan berharap, pertemuan tersebut dapat berujung pada penghentian kekerasan di Myanmar dan dimulainya proses politik yang damai.

Menurut Shofwan, Indonesia serta ASEAN tidak lulus ujian apabila krisis di Myanmar masih berlarut-larut sejak pertemuan tersebut.

Indonesia, kata dia, akan kehilangan suara di dunia internasional dan kehilangan pengaruhnya dalam politik internasional.

Shofwan mengungkapkan, ASEAN tidak akan dianggap sebagai institusi yang dipertimbangkan di kawasan apabila gagal menyelesaikan krisis di Myanmar.

“Kita tunggu saja. Saya kira ini pertaruhan, kalau gagal jadi stempel legitimasi junta, kalau berhasil bisa menjadi jalan untuk mengatasi krisis yang berlarut-larut,” tutur Shofwan.

Pertemuan para pemimpin ASEAN soal krisis Myanmar akan resmi dibuka di kantor Sekretariat ASEAN, Jakarta, pada Sabtu.

Sultan Brunei Darussalam Hassanal Bolkiah akan memimpin pertemuan tersebut sebagai ketua ASEAN pada 2021.

Pemimpin negara lain yang sudah memberikan konfirmasi akan hadir yakni, Perdana Menteri Malaysia Muhyiddin Yassin, Perdana Menteri Vietnam Pham Minh Chinh, Perdana Menteri Kamboja Samdech Techo Hun Sen, Perdana Menteri Singapura Lee Hsien Loong, serta Presiden Joko Widodo.

Juru bicara junta militer Myanmar, Zaw Min Tun juga mengonfirmasi Panglima Jenderal Senior Min Aung Hlaing akan menghadiri pertemuan tersebut.

Presiden Filipina Rodrigo Duterte dan Perdana Menteri Thailand Prayut Chan o-Cha tidak akan hadir dalam pertemuan tersebut.

Pemerintah Filipina mengirim Menteri Luar Negeri Teodoro Locsin, Jr. untuk mewakili Presiden Duterte, sedangkan Thailand akan diwakili oleh Menteri Luar Negeri Don Pramudwinai.

Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.
Topik terkait
Bu haberi paylaşın