Repertoar, Berita analisis, Nasional

‘Hoaks berperan besar membuat papa saya kalah melawan Covid-19’

Seorang keluarga korban meninggal akibat Covid-19, Helmi Indra, membagikan kisah tentang bagaimana hoaks berkontribusi merenggut nyawa ayahnya ketika terinfeksi

Nicky Aulia Widadio   | 27.07.2021
‘Hoaks berperan besar membuat papa saya kalah melawan Covid-19’ Petugas pemakaman membawa peti mati pasien Covid-19 di Jakarta, Indonesia pada 10 Juli 2021. Baru-baru ini di Indonesia, banyak pasien Covid-19 yang meninggal saat menjalani isolasi mandiri, diduga karena tidak ada petugas yang memantau kondisi pasien. ( Eko Siswono Toyudho - Anadolu Agency )

Jakarta Raya

JAKARTA 

Menjelang tengah malam pada Selasa, 13 Juli 2021, satu-satunya tabung oksigen yang membantu napas Nuryaman, 60, habis terpakai.

Saat itu merupakan hari kedelapan Nuryaman sakit dengan gejala seperti Covid-19. Selama delapan hari itu pula Nuryaman bersikukuh enggan dibawa ke rumah sakit dan memilih tetap di rumahnya yang berlokasi di wilayah Tegal, Jawa Tengah.

Namun pada malam itu, Nuryaman mengalami sesak lantaran kadar oksigen di dalam darahnya hanya berkisar 36-40 persen, jauh di bawah ambang batas normal sebesar 95 persen.

Istri Nuryaman kemudian mengabarkan salah satu anak mereka, meminta dicarikan stok oksigen. Tabung oksigen yang telah habis digunakan itu merupakan pinjaman dari kerabat mereka, satu-satunya yang bisa didapat setelah berupaya mencari ke sana-sini.

Dalam kondisi ini, Helmi Indra, salah satu anak Nuryaman mengatakan ayahnya masih enggan dibawa ke rumah sakit lantaran khawatir “di-covid-kan”. Sementara itu, mencari stok oksigen juga tidak mudah. Oksigen menjadi barang yang sulit dicari pada saat itu sebagai dampak dari lonjakan kasus Covid-19.

“Waktu itu papa belum mau juga dibawa ke rumah sakit, karena dibilang enggak dapat oksigen, tengah malam juga mana ada toko buka, jadi harus ke IGD. Tidak ada pilihan lain,” kata Helmi kepada Anadolu Agency, Selasa.

Setelah dibujuk lebih lama, Nuryaman akhirnya bersedia dibawa ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) di salah satu rumah sakit di Tegal pada Rabu dini hari. Tes antigen kemudian menunjukkan hasil reaktif.

Nuryaman akhirnya mendapatkan ruang isolasi pada Rabu sekitar pukul 11 siang. Saat itu, kata Helmi, rumah sakit sedang dibanjiri pasien Covid-19 dengan kondisi yang sama-sama buruk. Helmi merasa cukup beruntung karena ayahnya masih bisa mendapatkan slot IGD dan ruang isolasi.

Kondisi Nuryaman pun sempat membaik saat berada di rumah sakit. Keluarga juga sempat menghubungi dan memberi semangat pada Nuryaman. Namun, pada Rabu sekitar pukul 1 siang, kondisi Nuryaman memburuk dan napasnya semakin melemah. Nuryaman kemudian menghembuskan napas terakhirnya.

Khawatir “di-covid-kan” dan enggan divaksin

Di tengah duka, Helmi membagikan kisah tentang bagaimana hoaks berkontribusi merenggut nyawa ayahnya ketika terpapar Covid-19.

Menurut Helmi, ayahnya mempercayai hoaks bahwa pasien yang datang ke rumah sakit akan “di-covid-kan” atau didiagnosis terinfeksi Covid-19.

Nuryaman juga menolak meminum obat yang direkomendasikan oleh dokter dan hanya bergantung pada obat pereda nyeri selama menjalani isolasi mandiri.

“Waktu itu hoaks mengenai interaksi obat yang menyebabkan pasien meninggal lagi kencang-kencangnya, jadi papa minum obatnya cuma pereda nyeri dan pusing aja, padahal ada obat yang direkomendasikan,” tutur Helmi.

Sementara itu, Nuryaman juga memiliki penyakit diabetes yang membuat kondisinya menjadi lebih rentan ketika terinfeksi Covid-19.

Helmi mengatakan ayahnya juga menolak divaksin karena mempercayai bahwa vaksin haram, mengandung babi, dan dapat memperburuk kondisi seseorang.

“Papa itu enggak berani vaksin, lebih memilih enggak vaksin karena kabar-kabar seperti itu,” ujar dia.

Menurut Helmi, ayahnya terpapar hoaks melalui grup pada aplikasi pesan singkat maupun media sosial. Kepercayaan pada informasi yang salah itu yang kemudian melandasi keputusan Nuryaman, hingga akhirnya terlalu terlambat untuk mendapatkan pertolongan medis.

Selepas ayahnya meninggal, Helmi mengaku begitu menyesali lantaran tidak cukup berupaya melawan paparan hoaks dan disinformasi terkait Covid-19 kepada ayahnya.

“Hoaks berperan besar membuat papa akhirnya kalah melawan Covid-19,” tutur Helmi.

“Saya yakin kalau memang waktunya meninggal, ya meninggal saja, tapi saya enggak berharap dan enggak menyangka jalannya seperti ini,” lanjut dia.

Sejak peristiwa ini, Helmi menjadi lebih aktif mengingatkan orang-orang di sekitarnya untuk berhenti menyebarkan informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Bagi Helmi, tidak ada lagi kata lelah untuk melawan hoaks dan disinformasi di tengah pandemi.

“Awal-awal saya juga acuh, bodo amat, yang penting saya enggak terpapar berita hoaks, tetapi karena saya diam ternyata menyebabkan orang tua sendiri terpapar hoaks,” ujar Helmi.

Helmi bukan satu-satunya yang berjuang melawan hoaks dan disinformasi terkait Covid-19 yang masuk ke lingkup banyak keluarga di Indonesia.

Seorang jurnalis dari salah satu media nasional di Indonesia, Nur Ajijah, 28, mengatakan paparan hoaks juga merasuki keluarganya sendiri.

Kakak kandungnya sempat enggan menggunakan masker karena menganggap Covid-19 hanya sebatas penyakit biasa. Selain itu, kakaknya juga menolak divaksin karena khawatir dengan efek sampingnya dan menganggap vaksin sebagai “akal-akalan pemerintah”.

“Setiap dibahas ujung-ujungnya jadi berdebat, akhirnya ya terserah kalau enggak mau divaksin, yang penting jaga kesehatan dan mau pakai masker,” tutur dia.

Sebagai orang yang juga aktif menggunakan media sosial, Ajijah juga sempat dihujat oleh sejumlah warganet karena mencoba meluruskan hoaks mengenai interaksi obat yang beredar akibat klaim seorang dokter kecantikan yang bernama Dokter Lois.

Ajijah mencoba meluruskan narasi tersebut dengan mewawancarai seorang pakar dan mengunggahnya melalui media sosial Tiktok.

Meski sebagian pengguna Tiktok sepakat dengan Ajijah, dia juga menuai kecaman dari orang-orang yang mempercayai hoaks tersebut.

“Saya sempat dituding sales Covid-19, di-endorsed lah, sampai banyak yang menyerang Instagram saya,” kata Ajijah.

Hoaks perburuk situasi pandemi

Masyarakat Anti-Fitnah Indonesia (Mafindo), sebagai organisasi masyarakat sipil yang bergerak melawan kabar bohong, menemukan setidaknya 1.079 konten hoaks dan disinformasi terkait Covid-19 sejak Januari 2020 hingga 26 Juli 2021.

Ketua Presidium Mafindo Septiaji Eko Nugroho mengatakan situasi pandemi membuat jumlah hoaks yang beredar di tengah masyarakat meningkat hampir dua kali lipat dibanding 2019 lalu yang notabene merupakan tahun politik.

Septiaji meyakini jumlah hoaks terkait pandemi yang sesungguhnya beredar jauh lebih banyak dari temuan tersebut, terutama yang beredar di platform komunikasi yang lebih privat seperti Whatsapp dan Telegram.

Sejumlah peristiwa yang terjadi belakangan juga menunjukkan bagaimana hoaks berdampak buruk pada penanggulangan pandemi.

Sebuah ambulans dilempari batu ketika melintas di jalan layang Purwosari, Solo, Jawa Tengah pada 9 Juli 2021. Peristiwa itu terjadi di tengah munculnya kabar hoaks bahwa ambulans kosong sengaja menyalakan sirine untuk menakut-nakuti warga.

Hoaks juga berperan membentuk perilaku yang kontraproduktif dengan upaya menanggulangi pandemi, seperti menolak divaksin hingga menolak ke rumah sakit lantaran khawatir “di-covid-kan”. Dampak buruknya, kata Septiaji, bisa sampai menimbulkan hilangnya nyawa.

“Fenomena seperti orang yang terlambat dibawa ke rumah sakit karena percaya dengan hoaks itu saya rasa ini fenomena puncak gunung es. Saya meyakini ada banyak kasus serupa,” kata Septiaji kepada Anadolu Agency.

Lapor Covid-19, sebuah koalisi yang menerima laporan warga terkait Covid-19, mencatat lebih dari 2.000 orang meninggal saat menjalani isolasi mandiri sejak Juni 2021.

Salah satu poin yang memprihatinkan dari laporan tersebut, ada kasus-kasus kematian yang terjadi karena pasien Covid-19 menolak dibawa ke rumah sakit akibat khawatir “di-covid-kan”. Menurut Lapor Covid-19, hal ini cenderung terjadi di kawasan pedesaan.

“Ini perlu kita analisa juga, berapa besar dari mereka yang meninggal saat isolasi mandiri yang sebenarnya bisa bertemu dokter tetapi tidak mau karena percaya hoaks?” kata Septiaji.

Pandemi memunculkan polarisasi masyarakat

Septiaji menuturkan pandemi telah membentuk polarisasi di tengah masyarakat.

Kubu masyarakat rasional cenderung mempercayai informasi berbasis sains dan memandang Covid-19 serta pandemi harus ditanggapi secara serius.

Sebaliknya, ada kubu masyarakat yang menolak mengakui situasi pandemi, menganggap Covid-19 hanya penyakit sebagai biasa yang dibesar-besarkan, bahkan menganggap Covid-19 hanya sebagai isu yang dibentuk oleh pihak tertentu.

Mereka yang menolak realita pandemi, cenderung memiliki tafsir sendiri atas apa yang terjadi. Kelompok ini, menurut Septiaji, memberi denyut bagi penyebaran hoaks dan disinformasi di tengah masyarakat.

“Mereka tidak akan pernah mau menerima fakta di lapangan, ini yang sudah sulit. Mereka akan terus menolak vaksin, juga menolak menerapkan protokol kesehatan,” kata dia.

Ini menjadi salah satu tantangan terberat yang dihadapi Indonesia dalam menanggulangi pandemi. Pasalnya, untuk mencapai kekebalan komunitas (herd immunity) pemerintah perlu memvaksinasi lebih dari 208,2 juta penduduk.

Namun menurut Mafindo, situasi mencapai titik ini juga dipicu oleh buruknya komunikasi krisis pemerintah sejak awal pandemi. Sebagian masyarakat akhirnya cenderung menelan informasi alternatif yang beredar di media sosial dibandingkan yang apa yang disampaikan otoritas resmi negara.

Situasi ekonomi yang kian terpuruk akibat pandemi juga berkontribusi membuat masyarakat lebih menerima informasi alternatif yang dianggap lebih mewakili aspirasi mereka.

Salah satu strategi yang perlu dilakukan saat ini, kata Septiaji, ialah memformulasikan konten-konten melawan narasi hoaks seefektif mungkin agar dapat menjangkau lebih banyak lapisan masyarakat.​​​​​​​

“Kita perlu mendorong supaya komunikasi pemerintah lebih dua arah, libatkan tokoh masyarakat di daerah untuk membantu mengklarifikasi sekaligus mereka menjadi perpanjangan telinga apa yang menjadi keluhan masyarakat,” kata Septiaji.



Website Anadolu Agency Memuat Ringkasan Berita-Berita yang Ditawarkan kepada Pelanggan melalui Sistem Penyiaran Berita AA (HAS). Mohon hubungi kami untuk memilih berlangganan.